IN HOUSE TRAINING
PENGENALAN JENIS FAUNA, FLORA DAN TUMBUHAN HUTAN di Areal PT. Utama Damai Indah Timber
Base Camp Bunut, 17 – 22 Juni 2025 dan 29 Juni–15 September 2025 (pemasangan Camera Trap)
Dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM khususnya untuk pengenalan jenis fauna, pohon komersial dan nonkomersial, serta agar mampu mengidentifikasi jenis tumbuhan hutan yang ada di areal kerjanya, manajemen PT. UDIT dengan difasilitasi oleh Forum Kawasan Ekosistem Essensial (KEE) Wehea-Kelay, menyelenggarakan In House Training Pengenalan Jenis
Fauna, Flora dan Tumbuhan Hutan.
Pelatihan diikuti oleh 30 orang karyawan yang terdiri dari Bidang Perencanaan, Produksi, Pembinaan Hutan serta Personalia & Administrasi, baik yang bertugas di Camp maupun Samarinda, dengan narasumber ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Tri Atmoko (Ahli Satwa), Bina Swasta Sitepu, M.Si. (Ahli Tumbuhan) serta pendampingan dilakukan oleh YKAN (KEE Wehea-Kelay) Edy Sudiono, Arif Rifky dan Purnomo.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi :
- Penyampaian materi kelas
- Observasi Langsung (Direct Observation)
- Identifikasi Tidak Langsung (Indirect Observation)
Pengamatan fauna dilakukan melalui temuan jejak, kotoran, sarang, bekas cakaran maupun suara khas satwa. Sedangkan pengamatan flora, melalui pengenalan organ-organ jenis tumbuhan yang berada di areal kerja PT UDIT. Selain itu, dilakukan pemasangan Camera Trap saat pelatihan untuk demonstrasi dan dilanjutkan pemasangan 5 Camera Trap pasca pelatihan selama kurang lebih 3 bulan di lokasi KPPS (Kawasan Pengungsian dan Pelestarian Satwaliar). Hasilnya diidentifikasi di kanal Wildlife Insight, kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui kekayaan jenis dan indeks kelimpahan relatif (Relative Abundance Index/RAI). Rumus Relative Abundance Index/RAI yang paling umum digunakan adalah :
Materi pelatihan terdiri dari :
a. Identifikasi Fauna :
- Dasar Inventarisasi Keanekaragaman Satwa
- Pemanfaatan Camera Trap
- Kegunaan Inventarisasi
- Observasi suara burung menggunakan aplikasi BirdNET dan BIOACUSTIC
- Shortasi Data melalui: Management Folder / Management Data
- Menghitung IE – RAI
b. Identifikasi Flora :
- Mengenal Tumbuhan – Pohon Komersil (Nama Lokal, Nama Dagang, Nama Latin)
- 10 Jenis Pohon yang dominan ada di Kalimantan
- Jenis-jenis HCV yang masuk kategori IUCN atau Red List (Perdagangan)
- Ciri-ciri clas Dipterocarpaceae
- Pengambilan sampel daun, bunga, biji
- Pembuatan Herbarium
c. Evaluasi Hasil Praktik Lapangan :
Praktik lapangan dibagi menjadi 2(dua) grup yakni :
- Grup Identifikasi Satwa
- Grup Identifikasi Flora.
Pengamatan satwa dilakukan dengan cara :
a. Pemasangan Camera Trap
- Kamera dibiarkan aktif selama 3×24 jam atau lebih untuk uji coba, dilanjutkan pemasangan di dua lokasi selama 3 bulan.
b. Observasi Suara Burung
- Dilakukan pada pagi hari pukul 06.30–08.30 dan sore hari.
- Merekam suara burung menggunakan aplikasi BirdNet.
- Setiap hasil rekaman disimpan beserta waktu dan titik koordinat pengamatan.
c. Identifikasi Satwa
- Satwa hasil foto/video diidentifikasi berdasarkan ciri morfologi (warna bulu, bentuk tubuh, tanduk, ekor, pola belang, dll.).
- Hasil rekaman suara burung diidentifikasi berdasarkan hasil analisis BirdNet dan verifikasi manual melalui pustaka suara (Xeno-canto atau Macaulay Library).
d. Pengolahan Data Temuan
- Data foto/video dan suara diolah untuk menghitung indeks keanekaragaman (misalnya indeks Shannon-Wiener).
- Satwa dikelompokkan berdasarkan kelas taksonomi (mamalia, aves, reptil, amfibi, dll.).
- Khusus satwa lebih terfokus pada identifikasi spesies burung dengan menggunakan aplikasi BirdNET dan Bioacoustics.
Untuk Identifikasi Flora, pelatihan dilakukan dalam dua sesi : pemaparan materi di ruangan dan praktik lapangan. Pada sesi materi, diperkenalkan teknik identifikasi menggunakan organ reproduksi (bunga dan buah) yang lebih stabil secara morfologi, serta organ vegetatif (daun dan batang). Dari total hasil kegiatan, ditemukan setidaknya 51 jenis tumbuhan dari berbagai kelompok habitus – pohon, palm, herba, liana dan epifit.
Selama pelatihan, tercatat lebih dari 20 jenis Dipterocarpaceae, termasuk Shorea laevis, Shorea leprosula, Shorea parvifolia, Dipterocarpus curtisii, Anisoptera marginata, Dryobalanops oblongifolia, hingga Vatica oblongifolia. Identifikasi menggunakan organ vegetatif juga diajarkan untuk mengatasi kondisi ketika organ reproduksi tidak tersedia. Dipelajari karakter daun (tipe daun, susunan daun, bentuk pangkal dan ujung helai, serta pola pertulangan). Pada suku Dipterocarpaceae, dilatih mengenali ciri khas seperti tangkai daun yang mengecil di pangkal, keberadaan resin damar, banir, dan domatia daun yang penting untuk membedakan Shorea leprosula, Shorea parvifolia, Vatica spp., dan Hopea spp. Ditemukan beberapa kasus salah identifikasi tegakan, misalnya Mersawa (Anisoptera spp.), Merawan (Hopea spp.) dan bahkan Semangkok (Heritiera spp.) sering salah diberi label sebagai Meranti Merah. Selain kelompok pohon, ditemukan berbagai jenis non-pohon yang penting dalam ekologi hutan tropis Kalimantan, seperti anggrek dari genus Dendrobium, Bulbophyllum, Acriopsis hingga Cleisostoma; tanaman obat seperti pasak bumi (Eurycoma longifolia); serta kelompok jahe-jahean dari genus Amomum dan Hornstedtia. Secara keseluruhan, kelompok epifit dan herba yang tercatat mencapai lebih dari 15 jenis.
Foto/Dokumentasi :
Para Instruktur & Pendamping Materi dari Dr. Tri Atmoko (BRIN) Materi dari Bina Sitepu, M.Si (BRIN)
Tim Identifikasi Flora. Instruktur Bina Swasta Sitepu, M.Si (BRIN), pendamping Arif Rifky (YKAN)
Identifikasi pohon di lapangan Identifikasi sampel daun, biji, buah di teras kantor
Tim Identifikasi Fauna. Instruktur Dr. Tri Atmoko (BRIN), pendamping Edy Sudiono dan Purnomo (YKAN)
Pemasangan Camera Trap dan Bioacoustic Analisa suara rekaman burung menggunakan aplikasi BirdNET
